Selasa, 22 November 2016

APA ITU AUTISME?

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. ASD tak hanya mencakup autisme, tapi juga melingkupi sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).
alodokter-autisme
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, diperkirakan ada sekitar 2,4 juta orang penyandang autisme di Indonesia pada tahun 2010. Jumlah penduduk Indonesia pada saat itu mencapai 237,5 juta jiwa, berarti ada sekitar satu penyandang autisme pada setiap 100 bayi yang lahir.
Sangatlah penting untuk mewaspadai gejala-gejalanya sedini mungkin, sebab ASD termasuk kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Meski demikian, terdapat berbagai jenis penanganan serta langkah pengobatan  intensif yang bisa membantu para penyandang autisme untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, serta mencapai potensi mereka secara maksimal.

Gejala dan Diagnosis Autisme

Secara umum, gejala autisme terdeteksi pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai tiga tahun. Gejala dan tingkat keparahan autisme juga cenderung bervariasi pada tiap penyandang. Tetapi, gejala-gejala tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kategori utama.
Kategori pertama adalah gangguan interaksi sosial dan komunikasi. Gejala ini dapat meliputi masalah kepekaan terhadap lingkungan sosial dan gangguan penggunaan bahasa verbal maupun non verbal.
Sementara kategori kedua meliputi pola pikir, minat, dan perilaku yang terbatas serta bersifat pengulangan. Contoh gerakan repetitif, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, serta merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.
Penyandang autisme juga cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lain, misalnya gangguan hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder(ADHD), gangguan kecemasan, atau depresi.
Hubungi dokter jika Anda menyadari adanya gejala autisme atau gangguan perkembangan pada diri Anda maupun anak Anda. Penanganan sedini mungkin sebaiknya dilakukan guna meningkatkan keefektifan perkembangan kondisi ini.

Penyebab Autisme Serta Mitosnya

Terdapat sejumlah faktor, seperti pengaruh genetika dan lingkungan, yang diperkirakan dapat menyebabkan kelainan ini. Namun, penyebab autisme yang pasti belum diketahui hingga saat ini. Dalam kasus-kasus tertentu, autisme juga mungkin dipicu oleh penyakit tertentu.
Di samping itu, ada beberapa hal lain yang juga dianggap sebagai pemicu autisme. Namun, anggapan dan dugaan tersebut telah terbukti tidak berhubungan dengan autisme berdasarkan berbagai penelitian medis. Sejumlah mitos tersebut meliputi:
  • Senyawa thiomersal yang mengandung merkuri (digunakan sebagai pengawet untuk beberapa vaksin).
  • Vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR). Vaksin ini pernah dicurigai sebagai penyebab autisme sehingga banyak orang tua yang enggan memberikannya pada anak mereka.
  • Pola makan, seperti mengonsumsi gluten atau produk susu.
  • Pola asuh anak.
Penyandang Autisme Dewasa dan Permasalahannya
Kondisi autisme terkadang baru terdeteksi hingga pengidapnya dewasa. Proses diagnosis saat dewasa dapat membantu para pengidap serta keluarga untuk memahami autisme dan memutuskan jenis bantuan yang dibutuhkan.
Sebagian penyandang autisme dewasa merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan karena adanya tuntutan dan perubahan sosial dalam pekerjaan. Pusat layanan khusus autisme bisa membantu mereka untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan kemampuan mereka.
Di Indonesia, khususnya Jakarta, terdapat sejumlah organisasi yang menitikberatkan layanan khusus bagi penyandang autisme. Beberapa di antaranya adalah:
  • Yayasan Autisma Indonesia (YAI)
  • Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI).
  • Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC).
sumber : http://www.alodokter.com/

pertolongan pertama pada pendarahan nadi

A.      DEFINISI PERDARAHAN
Perdarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan.kerusakan ini bisa disebabkan oleh benturan fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
Sebagai seorang pelaku Pertolongan Pertama selain dapat melakukan tindakan bantuan hidup dasar dan resusitasi jantung paru, juga harus dapat mengenali dan mengatasi perdarahan.
Mengenali dan mengatasi perdarahan merupakan salah satu ketrampilan utama yang juga harus dikuasai oleh seorang pelaku Pertolongan Pertama. Bila perdarahan ini tidak diatasi dengan segera maka nyawa korban dapat terancam maut dengan tanda awal menjadi lemah, syok, dan akhirnya meninggal.
Untuk mengatasi perdarahan, kita harus tahu dahulu tentang sistem peredaran darah (sistem sirkulasi) yang bertanggung jawab mengedarkan (mengalirkan) darah ke seluruh tubuh manusia. Adapun 3 komponen utama dalam sistem ini adalah jantung, pembuluh darah, dan darah, yang ketiganya harus berfungsi dengan baik agar tidak terjadi gangguan dalam tubuh.
Dalam dunia kedokteran dikenal adanya istilah perfusi yaitu sirkulasi yang adekuat ke seluruh tubuh, memasok sel dan jaringan dengan oksigen dan bahan nutrisi, serta mengangkut kembali zat karbon dioksida dan sisa pembakaran tubuh.
Jika hal di atas terganggu pada salah satu atau lebih sel dan organ tubuh oleh satu atau beberapa penyebab, maka sel atau organ tersebut akan mengalami keadaan berbahaya, yaitu akan berkurangnya pasokan darah, oksigen, dan nutrisi sehingga zat sampah (karbon dioksida dan sisa pembakaran) akan bertumpuk. Keadaan ini dikenal dengan istilah Hipoperfusi atau Syok.

Perawatan perdarahan
1.    Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan:
a.       Pakai APD(alat perlindungan diri) agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban
b.      Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu memberi perawatan
c.       Cucilah tangan segera setelah selesai merawat
d.      Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan darah atau cairan tubuh korban
  1. Pada perdarahan besar:
a.       Jangan buang waktu mencari penutup muka
b.      Tekan langsung dengan tangan (sebaiknya menggunakan sarung tangan) atau dengan bahan lain.
c.       Bila tidak berhenti maka tinggikan bagian tersebut lebih tinggi dari jantung (hanya pada alat gerak), bila masih belum berhenti maka lakukan penekanan pada titik-titik tekan.
d.      Pertahankan dan tekan cukup kuat
e.       Pasang pembalut penekan.
  1. Pada perdarahan ringan atau terkendali:
a.       Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka
b.      Tekan sampai perdarahan terkendali
c.       Pertahankan penutup luka dan balut
d.      Sebaiknya jangan melepas penutup lukaatau balutan pertama
Berdasarkan letak keluarnya darah, perdarahan dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1.    Perdarahan luar (terbuka)
2.    Perdarahan dalam (tertutup)
B.       PERDARAHAN LUAR (TERBUKA)
Kerusakan dinding pembuluh darah yang disertai kerusakan kulit sehingga darah keluar dari tubuh dan terlihat jelas keluar dari luka tersebut dikenal dengan nama Perdarahan Luar (terbuka).
Bila sebagai seorang pelaku pertolongan pertama menemukan korban dengan kondisi seperti itu, maka harus berhati-hati dalam melakukan pertolongan karena sebagai penolong harus menganggap darah ini dapat menulari. Pastikan untuk memakai alat perlindungan diri, segera membersihkan darah yang menempel baik pada pakaian, tubuh, maupun peralatan.
Berdasarkan pembuluh darah yang mengalami gangguan, perdarahan luar ini dibagi menjadi tiga bagian:
1.         Perdarahan nadi (arteri), ditandai dengan darah yang keluar menyembur sesuai dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang karena kaya dengan oksigen. Perdarahan ini sulit untuk dihentikan, sehingga harus terus dilakukan pemantauan dan pengendalian perdarahan hingga diperoleh bantuan medis.
2.         Perdarahan Balik (Vena), darah yang keluar berwarna merah gelap, walaupun terlihat luas dan banyak namun umumnya perdarahan vena ini mudah dikendalikan. Namun perdarahan vena ini juga berbahaya bila terjadi pada perdarahan vena yang besar masuk kotoran atau udara yang tersedot ke dalam pembuluh darah melalui luka yang terbuka.
3.         Perdarahan Rambut (Kapiler), berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar merembes perlahan. Ini karena pembuluh kapiler adalah pembuluh darah terkecil dan hampir tidak memiliki tekanan. Jika terjadi perdarahan, biasanya akan membeku sendiri. Darah yang keluar biasanya berwarna merah terang seperti darah arteri atau bisa juga gelap seperti darah vena.
Pengendalian perdarahan bisa bermacam-macam, tergantung pada jenis dan tingkat perdarahannya. Untuk perdarahan terbuka, pertolongan yang dapat diberikan antara lain:
1.    Tekanan Langsung pada Cedera
Penekanan ini dilakukan dengan kuat pada pinggir luka. Setelah beberapa saat sistem peredaran darah akan menutup luka tersebut. Teknik ini dilakukan untuk luka kecil yang tidak terlalu parah (luka sayatan yang tidak terlalu dalam).
Cara yang terbaikpada umumnya yaitu dengan mempergunakan kassa steril (bisa juga dengan kain bersih), dan tekankan pada tempat perdarahan. Tekanan itu harus dipertahankan terus sampai perdarahan berhenti atau sampai pertolongan yang lebih baik dapat diberikan. Kasa boleh dilepas jika sudah terlalu basah oleh darah dan perlu diganti dengan yang baru.
2.    Elevasi
Teknik dilakukan dengan mengangkat bagian yang luka (setelah dibalut) sehingga lebih tinggi dari jantung. Apabila darah masih merembes, di atas balutan yang pertama bisa diberi balutan lagi tanpa membuka balutan yang pertama.
Elevasi dilakukan hanya untuk perdarahan pada daerah alat gerak saja dan dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung. Metode ini tidak dapat digunakan untuk korban dengan kondisi cedera otot rangka dan benda tertancap.
3.    Tekanan pada titik nadi
Penekanan titik nadi ini bertujuan untuk mengurangi aliran darah menuju bagian yang luka. Pada tubuh manusia terdapat 9 titik nadi, yaitu temporal artery (di kening), facial artery (di belakang rahang), common carotid artery (di pangkal leher, dan dekat tulang selangka ), brachial artery (di lipat siku), radial artery (di pergelangan tangan), femoral artery (di lipatan paha), popliteal artery (di lipatan lutut), posterior artery (di belakang mata kaki), dan dorsalis pedis artery (di punggung kaki).
4.    Immobilisasi
Bertujuan untuk meminimalkan gerakan anggota tubuh yang luka. Dengan sedikitnya gerakan, diharapkan aliran darah ke bagian yang luka tersebut menurun.
5.    Torniquet
Teknik ini hanya dilakukan untuk menghentikan perdarahan di tangan atau kaki saja, merupakan pilihan terakhir, dan hanya diterapkan jika ada kemungkinan amputansi. Bagian lengan atau paha atas diikat dengan sangat kuat sehingga darah tidak dapat mengalir. Tempat yang terbaik untuk memasang torniket adalah lima jari di bawah ketiak (untuk perdarahan lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk perdarahan di kaki).
Untuk memudahkan para pengusung, torniket harus terlihat jelas dan tidak boleh ditutupi, sehingga torniket dapat dikendorkan selama 30 detik setiap 10 menit sekali. Sementara itu, tempat perdarahan diikat dengan kasa steril. Torniket hanya digunakan untuk perdarahan yang hebat atau untuk lengan atau kaki yang cedera hebat.
Korban harus segara dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika korban tidak segera mendapat penanganan, bagian yang luka bisa membusuk.
6.      Kompres dingin
Tujuan dilakukannya kompres dingin adalah untuk menyempitkan pembuluh darah yang mengalami perdarahan (faso konstriksi) sehingga perdarahan dapat dengan cepat terhenti.

C.      PERDARAHAN DALAM (TERTUTUP)
Perdarahan dalam umumnya disebabkan oleh benturan tubuh korban dengan benda tumpul, atau karena jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, ledakan, dan lain sebagainya. Luka tusuk juga dapat mengakibatkan hal tersebut, berat ringannya luka tusuk bagian dalam sangat sulit dinilai walaupun luka luarnya terlihat nyata.
Kita tidak akan melihat keluarnya darah dari tubuh korban karena kulit masih utuh, tapi dapat melihat darah yang terkumpul di bawah permukaan kulit seperti halnya kasus memar. Perdarahan dalam ini juga bervariasi mulai dari yang ringan hingga yang dapat menyebabkan kematian. Untuk kasus yang menyebabkan kematian adalah karena:
  1. Rusaknya alat dalam tubuh dan pembuluh darah besar yang bisa menyebabkan hilangnya banyak darah dalam waktu singkat.
  2. Cedera pada alat gerak, contohnya pada tulang paha dapat merusak jaringan dan pembuluh darah sehingga darah yang keluar dapat menimbulkan syok.
  3. Kehilangan darah yang tidak terlihat (tersembunyi) sehingga penderita meninggal tanpa mengalami luka luar yang parah.
Mengingat perdarahan dalam berbahaya dan tidak terlihat (tersamar), maka penolong harus melakukan penilaian dengan pemeriksaan fisik lengkap termasuk wawancara dan analisa mekanisme kejadiannya. Lebih baik kita menganggap korban mengalami perdarahan dalam daripada tidak, karena penatalaksanaan perdarahan dalam tidak akan memperburuk keadaan korban yang ternyata tidak mengalaminya.
Tanda-tanda yang mudah dikenali pada perdarahan dalam:
  1. Memar disertai nyeri tubuh
  2. Pembengkakan terutama di atas alat tubuh penting
  3. Cedera pada bagian luar yang juga mungkin merupakan petunjuk bagian dalam yang mengalami cedera
  4. Nyeri, bengkak dan perubahan bentuk pada alat gerak
  5. Nyeri bila ditekan atau kekakuan pada dinding perut, dinding perut membesar
  6. Muntah darah
  7. Buang air besar berdarah, baik darah segar maupun darah hitam seperti kopi
  8. Luka tusuk khususnya pada batang tubuh
  9. Darah atau cairan mengalir keluar dari hidung atau telinga
  10. Batuk darah
  11. Buang air kecil bercampur darah
  12. Gejala dan tanda syok.
Jika tanda-tanda tersebut terlihat atau teraba pada pemeriksaan fisik, lakukan segera pertolongan pertama untuk penatalaksanaan korban dengan perdarahan dalam.
Cara – cara penatalaksanaan untuk korban dengan perdarahan dalam adalah sebagai berikut:
  1. Baringkan korban
  2. Pertahanan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
  3. Berikan oksigen bila ada
  4. Periksa pernafasan dan nadi secara berkala
  5. Rawat sebagai syok
  6. Jangan memberikan makan atau minum
  7. Jangan lupa mengenai cedera atau gangguan lainnya
  8. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat
Berbeda dengan perdarahan terbuka, pertolongan yang bisa diberikan pada korban yang mengalami perdarahan dalam adalah sebagai berikut:
  1. Rest
Korban diistirahatkan dan dibuat senyaman mungkin
  1. Ice
Bagian yang luka dikompres es sehingga darahnya membeku. Darah yang membeku ini lambat laun akan terdegradasi secara alami melalui sirkulasi dan metabolisme tubuh.
  1. Commpression
Bagian yang luka dibalut dengan kuat untuk membantu mempercepat proses penutupan lubang/bagian yang rusak pada pembuluh darah
  1. Elevation
Kaki dan tangan korban ditinggikan sehingga lebih tinggi dari jantung.

Pertolongan Pertama Luka Bakar

Luka bakar adalah kerusakan pada kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa sangat menyakitkan hingga mengakibatkan gejala seperti:
  • Kulit memerah
  • Kulit mengelupas
  • Luka melepuh
  • Kulit hangus
  • Pembengkakan
Berikut ini adalah beberapa penyebab luka bakar yang sering terjadi:
  • Suhu panas. Biasanya disebabkan oleh api, uap, cairan, atau benda yang panas.
  • Listrik. Ini bisa disebabkan karena terkena arus listrik atau pun petir.
  • Sinar matahari. Kondisi ini disebabkan karena pajanan terhadap sinar matahari. Beberapa alat untuk menggelapkan warna kulit juga bisa mengakibatkan luka bakar.
  • Kimia. Biasanya disebabkan karena bersentuhan dengan bahan kimia rumah tangga maupun industri.
  • Radiasi. Peralatan seperti X-ray dan terapi radiasi untuk penderita kanker juga bisa mengakibatkan luka bakar pada kulit.
Selain menyebabkan kerusakan pada lapisan kulit, penyebab-penyebab di atas juga bisa melukai bagian tubuh lainnya, seperti otot, pembuluh darah, saraf, paru-paru, dan mata.

Tingkat Keparahan

Bagi Anda yang mengalami luka bakar ringan, pastikan untuk membersihkan daerah yang terkena luka bakar. Hindari memecahkan sendiri luka melepuh pada kulit. Hal ini dilakukan untuk menghindari infeksi terhadap luka, terlebih ketika Anda memecahkan luka melepuh dengan benda yang tidak steril.
Tingkat keparahan luka bakar seseorang sangat tergantung kepada:
  • Ketebalan lapisan kulit yang terbakar
  • Ukuran dan lokasi luka bakar
  • Penyebab luka bakar
  • Usia dan faktor kesehatan penderita luka bakar
Terdapat beberapa luka yang harus langsung ditangani oleh IGD di rumah sakit, terutama luka bakar akibat bahan kimia dan listrik. Luka bakar yang besar dan dalam juga perlu ditangani secepatnya. Begitu juga dengan luka bakar pada sebagian lapisan kulit wajah, tangan, lengan, kaki, atau alat kelamin juga dianggap sebagai kondisi yang memerlukan penanganan medis. Terutama pada wanita hamil dan juga balita, luka bakar juga harus mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Operasi plastik mungkin diperlukan jika luka bakar yang terjadi terlalu parah.
Jika Anda menghirup asap atau pun uap kimia atau bersuhu panas, Anda juga perlu diperiksa secara medis. Menghirup uap panas atau gas bisa menyebabkan paru-paru terluka. Menghirup gas beracun seperti karbonmonoksida bisa mengakibatkan kondisi keracunan.

Pengobatan Luka Bakar

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangani luka bakar sebagai pertolongan pertama. Langkah pertama adalah mendinginkan luka bakar yang terjadi dengan air biasa kira-kira selama 20-30 menit. Pastikan tidak memakai es, air es, krim, atau bahan yang berminyak untuk mendinginkan luka bakar. Es atau pun air es yang diterapkan secara langsung, bisa membuat luka makin parah.
Singkirkan pakaian atau pun aksesoris yang menutupi kulit yang terbakar. Jika pakaian atau pun aksesoris yang ada sudah menempel pada kulit yang terbakar, usahakan untuk tidak mengangkatnya.
Pastikan orang yang mengalami luka bakar tetap merasa hangat. Bisa menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, tapi jangan sampai menggores bagian kulit yang mengalami luka bakar. Luka bakar bisa ditutupi dengan plastik atau perban steril.
Dan terakhir, penderita disarankan untuk minum obat pereda rasa sakit seperti parasetamol atau ibuprofen jika sakit mengganggu atau terasa tidak tertahankan. Bacalah petunjuk dan peringatan yang terkandung di bungkus obat sebelum mulai mengonsumsinya.
Bayi dan anak kecil sering mengalami luka bakar serius karena kelalaian atau karena mereka bermain dengan peralatan dan perlengkapan rumah. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghindarkan anak mengalami luka bakar:
  • Ajari anak untuk tidak bermain di wilayah dapur. Banyak peralatan atau bahan yang bisa menimbulkan luka bakar.
  • Usahakan untuk menyetrika di atas meja yang cukup tinggi dan jauh dari jangkauan anak kecil. Jangan lupa untuk segera mematikan setrika setelah memakainya.
  • Simpan korek api atau peralatan yang dapat menghasilkan api jauh dari jangkauan dan penglihatan anak-anak.
  • Jauhkan minuman panas dari anak kecil.
  • Ajari anak untuk tidak dekat-dekat dengan knalpot kendaraan yang panas atau kendaraan yang baru dipakai.
  • Periksa suhu air yang akan dipakai untuk mandi bayi Anda. Gunakan siku Anda untuk memeriksa kehangatan air.
  • Berikan pengertian tentang peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang bisa menyebabkan luka bakar pada anak Anda. Terutama perlengkapan yang menggunakan arus listrik.

sumber : http://www.alodokter.com

Pertolongan pertama pada orang pingsan

Jika ada orang yang pingsan di tengah kerumunan, tentu akan membuat panik orang disekelilingnya dan ini wajar. Namun, bagaimana jika hanya ada Anda di depannya? Pertolongan apa yang perlu dilakukan dalam keadaan seperti itu? Artikel berikut ini akan membahas tips-tips praktis sewaktu menolong orang pingsan.
Pingsan terjadi karena aliran darah yang menuju otak tidak memadai sehingga menyebabkan Anda kehilangan kesadaran dan biasanya hanya sebentar (beberapa menit).
Penyebabnya bisa jadi ringan dan tidak berbahaya, namun hal ini dapat menjadi tanda adanya penyakit serius yang membutuhkan pertolongan medis. Oleh karena itu, disarankan untuk segera menangani kehilangan kesadaran sampai kondisinya membaik.

Pertolongan Pertama Jika Anda Merasa akan Pingsan

  • Berbaring atau duduklah sampai Anda merasa lebih baik dan bangkitlah secara perlahan.
  • Tempatkan kepala Anda di antara lutut ketika duduk.

Pertolongan Pertama Jika Orang Lain yang Pingsan

Segera baringkan dia di tempat yang tenang dan sepi, jika ia masih bernapas segera naikkan kakinya di posisi lebih tinggi dari jantung—sekitar 30 cm di atas dada jika mungkin. Hal ini akan memulihkan aliran darah yang menuju otak. Kendurkan ikat pinggang, kerah atau benda lain yang dapat menghambat peredaran darah.
Setelah sadar, biarkan ia tetap berbaring selama setidaknya 1-15 menit lalu bangunkanlah dia secara perlahan agar tidak kembali pingsan. Jika orang tersebut tetap tidak sadar dalam waktu satu menit, hubungi unit gawat darurat terdekat agar ia mendapat pertolongan medis secepat mungkin.

Kapan Orang Pingsan Membutuhkan Pertolongan Medis?

Jika orang pingsan tersebut…
  • Tidak bernapas
  • Tidak sadar dalam beberapa menit
  • Telah terjatuh dan mengalami cedera atau pendarahan
  • Sedang hamil
  • Menderita diabetes
  • Tidak pernah pingsan sebelumnya
  • Berusia lebih dari 50 tahun atau memiliki cacat fisik
  • Detak jantungnya tidak beraturan
  • Pernah mengeluh nyeri atau tekanan di dadanya
  • Kejang-kejang

Bagaimana Cara Mencegah agar Tidak Pingsan Kembali?

Jika Anda pernah pingsan sebelumnya, ada baiknya untuk mengenali dan menghindari penyebab atau pemicu Anda pingsan. Apa saja itu? Bisa jadi Anda pernah pingsan karena terlalu cepat bangkit dari posisi duduk atau tiduran, maka cobalah untuk bangkit secara perlahan.
Kalau Anda cenderung ingin pingsan ketika melihat darah berceceran, ada baiknya memberi tahu dokter Anda sebelum menjalani prosedur bedah atau medis lainnya yang memungkinkan keluarnya darah. Selain itu, penyebab ringan lainnya adalah rasa takut atau cemas yang berlebihan, biasanya terjadi ketika Anda panik.
Saat Anda merasakan adanya tanda-tanda mau pingsan—seperti sakit kepala, tubuh terasa lemah, atau sensasi kepala berputar—sebaiknya segera duduk dan posisikan kepala Anda di antara kedua lutut.
Dengan melakukannya, aliran darah dibantu untuk kembali mengalir menuju otak. Jika mungkin, berbaringlah supaya menghindari kemungkinan cedera akibat terjatuh.
Setelah membaca caranya memberikan pertolongan pertama pada orang pingsan, diharapkan agar Anda bisa lebih siap jika sewaktu-waktu ada orang yang pingsan di depan Anda atau ketika Anda sendiri yang ingin pingsan. Karena seandainya tidak segera ditolong, bukan tidak mungkin akan berdampak pada gangguan kesehatan yang lebih berbahaya.